Anti Mikroba, TBC dan Anti Lepra

BAB I
PENDAHULUAN


1.1.            Latar Belakang
Di dunia ini terdapat banyak jenis mikroba, ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan (parasit). Mikroba yang menguntungkan misalnya sering digunakan dalam pembuatan makanan, kosmetik dan obat. Sedangkan mikroba merugikan biasanya dapat menimbulkan penyakit bahkan dapat menimbulkan kematian. Penyakit yang ditimbulkan oleh mikroba biasanya sering diobati dengan obat-obat yang berasal dari jenis-jenis miroba tertentu.

1.2.            Pembatasan Masalah
Dalam penyusunan maklah ini, penyusun membatasi masalah yang akan dibahas yaitu mengenai antimikroba, TBC dan antilepra.

1.3.            Tujuan
Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah fisiologi II. Selain itu dengan disusunnya makalah ini dapat menambah ilmu pengetahuan khususnya bagi penyusun dan umumya bagi pambaca.

1.4.            Metode Pengumpulan Data
Adapun metode pengumpulan data dalam penyusunan makalah ini yaitu dengan studi pustaka dan penelusuran dalam situs internet.






BAB II
Pembahasan

2.1. Antimikroba
            Antimikroba (AM) ialah obat pembasmi mikroba, khususnya mikroba yang merugikan manusia. Antibiotika berasal dari bahasa latin yang terdiri dari kata anti = lawan, bios = hidup. Adalah zat-zat yang dihasilkan oleh mikroba terutama fungi dan bakteri tanah, yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain, sedang toksisitasnya terhadap manusia relatif kecil.
          Antibiotic adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi, yang dapat menghambat atau dapat menghambat atau membasmi mikroba jenis lain. Antibiotik pertama kali ditemukan oleh sarjana Inggris dr. Alexander Fleming (Penisilin) pada tahun 1928. Tetapi penemuan ini baru dikembangkan dan digunakan dalam terapi di tahun 1941 oleh dr. Florey. Kemudian banyak zat  dengan khasiat antibiotik diisolir oleh penyelidik-penyelidik lain diseluruh dunia, namun toksisitasnya hanya beberapa saja yang dapat digunakan sebagai obat. Antibiotik juga dapat dibuat secara sintetis, atau semi sintetis.
            Obat yang digunakan untuk membasmi mikroba, penyebab infeksi pada manusia, ditentukan harus memiliki sifat toksisitas selektif. Artinya obat tersebut haruslah bersifat toksik untuk mikroba, tetapi relative tidak toksik untuk hospes.
          Aktivitas antibiotik umumnya dinyatakan dalam satuan berat (mg) kecuali yang belum sempurna permurniannya dan terdiri dari campuran beberapa macam zat, atau karena belum diketahui struktur kimianya, aktivitasnya dinyatakan dalam satuan internasional = Internasional Unit (IU). Dibidang peternakan antibiotik sering dimanfaatkan sebagai zat gizi tambahan untuk mempercepat pertumbuhan ayam negeri potong.

          2.1.1. Aktifitas dan sprektum antimikroba
          Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada antimikroba yang bersifat menghambat pertumbuhan mikroba ( aktivitas Bakteriostatik) dan ada yang bersifat membunuh mikroba (aktvitas bakterisid). Kadar minimal yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan atau membunuhnya masing-masing dikenal sebagai kadar hambatan minimal (KHM) dan kadar bunuh minimal (KBM).

          2.1.2. Penggolongan antibiotik berdasar aktivitasnya
          Berdasarkan luas aktivitas kerjanya antibiotika dapat digolongkan atas :
1.       Zat-zat dengan aktivitas sempit (narrow  spektrum)
            Zat yang aktif terutama terhadap satu atau beberapa jenis bakteri saja (bakteri gram positif atau bakteri gram negatif saja). Contohnya eritromisin, kanamisin, klindamisin (hanya terhadap bakteri gram positif), streptomisin, gentamisin (hanya terhadap bakteri gram negatif saja)
2.       Zat-zat dengan aktivitas luas (broad spectrum)
Zat yang berkhasiat terhadap semua jenis bakteri baik jenis bakteri gram positif maupun gram negatif.  Contohnya   ampisilin, sefalosporin, dan kloramfenicol.
          2.1.3. Mekanisme kerja antimikroba
                        Berdasarkan mekanisme kerjanya anti mikroba di bagi dalam lima kelompok:
1.   Yang mengganggu metabolisme sel mikroba.
2.   Yang menghambat dingding sel mikroba.
3.   Yang megganggu permeabilitas membran sel mikroba.
4.   Yang menghabat sintesis protein sel mikroba.
5.   Yang menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel mikroba.
          2.1.4. Kelompok antibiotika
          Antibiotika yang akan dibicarakan adalah:
1.    Golongan Penisilin
2.    Golongan Sefalosforin
3.    Golongan Aminoglikosida
4.    Golongan Kloramfenikol
5.    Golongan Tetrasiklin
6.    Golongan Makrolida
7.    Golongan Rifampisin dan Asam Fusidat
8.    Golongan Lain - Lain

Spesialite :    
1. Golongan Penicillin (golongan beta laktam)
NO.
NAMA GENERIK
& LATIN
NAMA DAGANG
SEDIAAN
PABRIK
1.
Benzyl Penicillin
Procaine Penicillin-G
Vial 20 ml : 3.000.000 unit
Meiji
2.
Penisilin V
( Phenoxymethyl Penicillin )
Fenocin
Ospen
125 mg / tablet
250 mg / tablet,
250 mg / 5mlsyr.
Dumex Alph.
Biochemie / KF

3.
Ampisilin

Penbritin





Kalpicillin

Omnipen



100mg;250 mg;500 mg;
1g/ vial
250 mg, 500 mg / kapsul
125mg/5mlsyr.,250ml/5ml syr.Forte,125mg/ tab.ped.

500 mg / kaplet ;
250 mg, 500 mg, 1 g/vial

250 mg, 500 mg / kapsul ;
125 mg / 5ml syr. ;
250 mg / 5ml syr. Forte
Beecham





Kalbe Farma


Wyeth

3.
Ampisilin

Viccillin


250 mg, 500 mg, 1g / vial ;
250 mg, 500 mg/ kapsul ;
125 mg / 5ml syr.;
250 mg / 5ml syr. forte
Meiji

4.
Amoksisilin
Amoxil




250 mg,500mg/kapsul ;
250 mg, 1g/tablet; 125mg/5ml syr.;
250 mg/5mlsyr Forte ;
125 mg/1,25 ml drops;
500 mg, 1 g / vial injeksi
Beecham


Topcillin



Ospamox
250mg/kapsul;
500mg,1g kaplet;
125 mg / 5ml syr.
250mg/5mlsyr. Forte
125 mg, 250 mg / 5ml syr.;
100mg/mldrops; 250mg/kapsul;
500 mg, 750 mg, 1g/ tablet
Dankos



Biochemie

5.
Co-amoxyclav
(Amoksisilin + As.clavulanat )
Augmentin
Clavamox
Per tablet :
Amoxycillin 250mg(500mg)
As.clavulanat 125mg(125mg)
Tiap 5ml syr./ syrop forte :
Amoxycillin 250mg(500mg)
As.clavulanat 31,25mg
 (62,5 mg )
Tiap vial injeksi :
Amoxycillin 500mg(1g)
As.clavulanat 100mg(200mg)
Beecham
Kalbe Farma

6.
Sultamicillin
( Ampicillin +  Sulbactam )
Unasyn
Per tablet :
Ampicillin 220 mg
sulbaktam 147 mg
Pfizer
7.
Kloksasilin

Ikaclox


Meixam
250 mg, 500 mg / kapsul
125mg/5mlsyr.;
250mg,500mg/vial
250 mg, 500 mg / kapsul
250 mg, 500 mg, 1g / vial
Ika Pharmindo


Meiji

2.       Golongan Sefalosporin  (golongan beta laktam)
NO.
NAMA GENERIK
& LATIN
NAMA DAGANG
SEDIAAN
PABRIK
1.
Sefadroksil
Duricef




Cefat
125mg/ 5ml suspensi;
250 mg / 5ml susp. Forte;
250 mg, 500mg / kapsul
1g / kaplet

250 mg, 500 mg / kapsul
Bristol - Myers Squib



Sanbe Farma
2.
Sefotaksim
Claforan
0,5g, 1g, 2g / vial
Hoechst
3.
Sefaleksin
Tepaxin
250 mg / kapsul
Takeda
4
Sefriakson
Rocephin
250 mg, 500 mg, 1g / vial
Roche
5.
Sefradin
Velosef
250 mg, 500 mg / kapsul;
1000 mg / tablet;
500mg, 1g / vial ;
125 mg / 5 ml suspensi ;
25 0 mg / 5 ml susp.forte
Bristol-Myers Squib
6.
Sefuroksim
Zinnat
1g / vial
Glaxo-Wellcome
3.       Golongan Aminoglikosida
NO.
NAMA GENERIK
& LATIN
NAMA DAGANG
SEDIAAN
PABRIK
1.
Gentamisin Sulfat

Garamycin
20mg, 80mg, 120 mg / vial 2 ml
60mg/1,5 ml ampul
Schering
2.
Amikasin
Amikin
200mg, 500mg, 1g / vial
B-M-S
3.
Kanamisin Sulfat

Kanamycin Meiji
500mg, 1g, 2g / vial
250 mg / kapsul
Meiji

4.
Neomisin Sulfat
Neobiotic
250 mg / tablet
Bernofarm
5.
Streptomosin
Streptomycin Meiji
1g, 1,5g, 5g / vial
Meiji
6.
Framisetin

Sofra-Tulle
Daryant-Tulle
Kassa pembalut steril
Darya Varia
4.       Golongan Kloramfenikol
NO.
NAMA GENERIK
& LATIN
NAMA DAGANG
SEDIAAN
PABRIK
1.
Kloramfenikol


Colme
Chloramex
Enkacetyn
Kalmicetin

250 mg /kapsul
125 mg / 5 ml syr.
Interbat
Dumex Alpharma
Kimia Farma
Kalbe Farma
2.
Tiamfenikol


Urfamycin
Thiamycin
Thiambiotic
250 mg, 500 mg / kapsul
100 mg / 5 ml syrup

Zambon
Interbat
Prafa
5.       Golongan Tetrasiklin
NO.
NAMA GENERIK
& LATIN
NAMA DAGANG
SEDIAAN
PABRIK
1.
Tetrasiklin
Dumocycline
Supertetra
Tetrin
250 mg / kapsul
Dumex Alph.
Darya-Varia
Interbat
2.
Doksisiklin

Vibramycin
Dumoxin
50 mg, 100 mg/kapsul
100mg, 150 mg / tablet
Pfizer
Dumex Alph.
3.
Minosiklin HCl

Minocin
50mg, 100 mg / kapsul
50 mg / 5ml syr.
Lederle

4.
Oksitetrasiklin HCl

Oxytetracycline Indo Farma
Terramycin
Salep Mata

Kapsul 250 mg, vial
Indo Farma

Pfizer
6.       Golongan Makrolida
NO.
NAMA GENERIK
& LATIN
NAMA DAGANG
SEDIAAN
PABRIK
1.
Eritromisin

Erythrocin


Kalthrocin
Pharothrocin
250 mg / kapsul;
250 mg (500mg)/tablet(forte)
200 mg / tablet kunyah;
200mg/ 5ml suspensi
250 mg / 5ml susp.forte
100 mg/ 2,5ml drops
Abbot


Kalbe Farma
Pharos

2.
Spiramisin

Rovamycin
Spiradan
500 mg / tablet
250 mg / tablet pediatric
125 mg / 5 ml syr.
Rhone P.
Dankos
3.
Roxithromycin
Rulid
150 mg, 300 mg / tablet
100 mg / tablet pediatric
Hoechst
4
Azithromycin
Zithromax

Zycin
250 mg, 500 mg /tablet
200 mg / 5 ml suspensi
250 mg / kapsul
Pfizer

Interbat
7.       Golongan Quinolon
NO.
NAMA GENERIK
& LATIN
NAMA DAGANG
SEDIAAN
PABRIK
1.
Ciprofloxacin
Ciproxin



Baquinor
100mg/50ml, 1200mg/100ml
/ infus i.v.
100mg, 250mg, 500mg, 750mg  / tablet

250mg(500mg)/tab. (forte)
Bayer



Sanbe Farma
2.
Nalidixic Acid
Negram
500 mg / tablet
Sanofi
3.
Ofloxacin
Tarivid
200 mg, 400 mg / tablet
2 mg / ml vial
Kalbe / Daiichi
8.       Golongan Lain - Lain
               
NAMA GENERIK
& LATIN
NAMA DAGANG
SEDIAAN
PABRIK
1.
Klindamisin Hidroklorida

Dalacin C
Niladacin
Lando
150 mg, 300mg / kapsul;
75 mg / 5 ml granul;
150 mg / 2 ml ampul
Up John
Nicholas
Pyridam
2.
Kolistin Sulfat

Colistine
250.000 IU, 1.500.000 IU/ tablet
Dumex Alpharma
3.
Metronidazol

Elyzol
Flagyl i.v
Nidazole
500 mg / tablet
5 mg / ml infusa
Dumex
Rhone Povlenc
Kalbe Farma
4.
Lincomycin
Lincocin

250 mg, 500mg / kapsul
250 mg / 5ml syr.
300 mg / ml vial
Up John


5.
Tinidazole
Fasigyn
Flatin
500 mg / tablet
Pfizer
Prafa
6.
Rifampicin
Kalrifam
150mg, 300mg, 450mg, 600 mg / kapsul
Kalbe Farma
                       
          2.1.5. Efek samping
          Penggunaan antibiotika tanpa resep dokter atau dengan dosis yang tidak tepat dapat menggagalkan pengobatan dan menimbulkan bahaya-bahaya lain seperti:
1.       Sensitasi / hipersensitif
Banyak obat setelah digunakan secara lokal dapat mengakibatkan kepekaan yang berlebihan, kalau obat yang sama kemudian diberikan secara oral atau suntikan maka ada kemungkinan  terjadi reaksi hipersentitiv atau allergi seperti gatal-gatal kulit kemerah-merahan, bentol-bentol atau lebih hebat lagi dapat terjadi syok, contohnya Penisilin dan Kloramfenikol. Guna mencegah bahaya ini maka sebaiknya salep-salep menggunakan antibiotika yang tidak akan diberikan secara sistemis (oral dan suntikan).
2.         Resistensi
            Jika obat digunakan dengan dosis yang terlalu rendah, atau waktu terapi kurang lama, maka hal ini dapat menyebabkan terjadinya resistensi artinya bakteri tidak peka lagi terhadap obat yang bersangkutan. Untuk mencegah resistensi, dianjurkan menggunakan kemoterapi dengan dosis yang tepat atau dengan menggunakan kombinasi obat.
3.       Super infeksi
Yaitu infeksi sekunder yang timbul selama pengobatan dimana sifat dan penyebab infeksi berbeda dengan penyebab infeksi yang pertama. Supra infeksi terutama terjadi pada penggunaan antibiotika broad spektrum yang dapat mengganggu keseimbangan antara bakteri di dalam usus saluran pernafasan dan urogenital.
          Spesies mikroorganisme yang lebih kuat atau resisten akan kehilangan saingan, dan berkuasa menimbulkan infeksi baru misalnya timbul jamur Minella albicans dan Candida albicans. Selain antibiotik obat yang menekan sistem tangkis tubuh yaitu kortikosteroid dan imunosupressiva lainnya dapat menimbulkan supra infeksi.  Khususnya,anak-anak dan orangtua sangat mudah dijangkiti supra infeksi ini.

2.2.  Anti Tuberkulosis (TBC)

Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberkulosis. Kuman TBC pertama kali ditemukan oleh dr Roberet Koch (1882).Penyakit biasanya terletak di paru tetapi dapat mengenai organ lain. Dengan tidak adanya pengobatan yang tidak efektif untuk penyakit yang aktif, biasa terjadi penyakit yang kronik dan berakhir dengan kematian.
Tuberkulosis, adalah suatu penyakit menular yang paling sering (sekitar 80%) terjadi di paru-paru. Penyebabnya adalah suatu basil Gram-positif tahan-asam dengan pertumbuhan sangat lamban. Gejala TB antara lain batuk kronik, demam, berkeringat waktu malam, keluhan pernapasan, perasaan letih, malaise, hilang nafsu makan, turunnya berat badan, dan rasa nyeri di bagian dada. Dahak penderita berupa lendir (mucoid), purulent, atau mengandung darah.
Setelah terjadi infeksi melalui saluran pernafasan, di dalam gelembung paru (alveoli) berlangsung reaksi peradangan setempat dengan timbulnya benjolan benjolan kecil (tuberkel). Sering kali sistem tangkis tubuh yang sehat dapat memberantas basil dan caranya adalah menyelubunginya dengan jaringan pengikat. Infeksi primer ini lazimnya menjadi abses terselubung dan berlangsung tanpa gejala, hanya jarang disertai batuk dan sesak nafas.
Infeksi dapat pula menyebar melalui darah dan limfa ke organ lain, antara lain ginjal, tulang dan pada anak anak ke otak dengan menimbulkan radang selaput otak (tuberkulosis meningitis).
Tuberkulosis disebabkan oleh kuman tahan asam yang sifatnya berbeda dengan kuman lain. Menurut Zubaidi (1995), pengobatan infeksi kuman tahan asam masih merupakan persoalan dan tantangan dalam bidang kemoterapi. Faktor yang mempersulit pengobatan ialah:
1. kurangnya daya tahan hospes terhadap mikobakteria
2. kurangnya daya bakterisid obat yang ada
3. timbulnya resistensi kuman terhadap obat, dan
4. masalah efek samping obat

          Anti tuberculosis adalah obat-obat atau kombinasi obat yang diberikan dalam jangka waktu tertentu untuk mengobati penderita tuberkulosis. Sampai saat ini di Indonesia penyakit TBC masih merupakan penyakit rakyat yang banyak mengambil korban, hal ini disebabkan:
·           Masih kurangnya kesadaran untuk hidup sehat.
·           Perumahan yang tidak memenuhi syarat (ventilasi dan masuknya cahaya matahari)
·           Kebersihan/hygiene
·           Kurang gizi/gizi tidak baik.

          2.2.1. Penularan TBC
Penularan kuman TBC dapat melalui:
·           Saluran pernafasan, Penyakit TB ditularkan dari orang ke orang, terutama melalui saluran pernafasan dengan menghisap atau menelan tetes tetes ludah yang mengandung basil dan dibatukkan oleh penderita TB terbuka atau adanya kontak antara tetes tetes ludah tersebut dengan luka di kulit. (sebaiknya penderita menutup mulut dengan sapu tangan ketika batuk atau bersin).
·           Lewat makanan dan minuman
          Penularan TBC dapat dihindari dengan cara menggunakan desinfektan pada sapu tangan atau barang-barang yang digunakan, dan mengusahakan agar ruangan tempat penderita mempunyai ventilasi yang baik.
          Cara pencegahan TBC adalah dengan memberikan vaksinasi sedini mungkin pada bayi-bayi yang baru lahir. Vaksin yang digunakan adalah vaksin BCG (Basil Calmette Guerin). Untuk menentukan seseorang terinfeksi oleh basil TBC atau tidak biasanya dilakukan dengan reaksi Mantoux , yaitu penyuntikan yang dilakukan dilengan atas dengan tuberkulin (filtrat dari pembiakan basil TBC). Bila ditempat penyuntikan tidak timbul bengkak merah berarti orang tersebut tidak terinfeksi TBC.

          2.2.2. Pengobatan
          Sebelum ditemukan obat-obat yang dapat memusnahkan penyebab penyakit, bentuk pengobatan terbatas pada terapi simptomatis seperti mengurangi batuk dan menghilangkan demam, istirahat total di sanatorium dan diet makanan bergizi yang kaya lemak dan vitamin A.
          Obat TBC yang pertama kali ditemukan adalah streptomisin, disusul kemudian dengan PAS dan INH. Sampai tahun 1970-an kombinasi standar untuk pengobatan TBC menggunakan ketiga obat di atas. Sesudah tahun 1970 kombinasi standar untuk TBC menjadi  INH, ethambutol dan rifampisin.
          Dengan pengobatan modern, setelah 4 sampai 6 minggu pasien bebas bermasyarakat seperti biasa karena tidak lagi menularkan kuman TBC. Basil TBC terkenal sangat ulet dan sulit ditembus zat kimia (obat) karena dinding sel bakteri mengandung banyak lemak dan lilin (wax), sehingga pengobatan TBC memerlukan periode waktu yang cukup lama .
Tujuan pengobatan kombinasi :
·           Mencegah resistensi
·           Praktis karena dapat diberikan sebagai dosis tunggal.
·           Mengurangi efek samping.
Spesialite :
NO.
NAMA GENERIK
& LATIN
NAMA DAGANG
SEDIAAN
PABRIK
1

Ethambutol

Cetabutol
Kalbutol
Etibi
250 mg, 500 mg/tablet
500 mg / tablet
250 mg, 500 mg / tablet
Soho
Kalbe Farma
Rocella
2.
Isoniazid


Isoniazid + Vitamin B-6
Isonex
INH

Pehadoxin
50 mg / 5 ml syr.
50 mg , 100 mg / tablet

Per tablet  :
INH 100 mg,Vit.B6 10 mg
Dumex
Soho

Phapros




Isoniazid + Vitamin B-6 + Ethambutol
Inoxin

Intam 6
Meditam

Per tablet :
INH 400 mg,Vit.B610 mg

Per tablet :
INH 100 mg,Ethambutol 250 mg, Vit.B6 10 mg
Dexamedica


Rhone P
Medikon
.

Mycothambin- INH Forte
Per tablet :
INH 200 mg,Ethambutol 500 mg, Vit.B6 20 mg
UAP


3.
Pirazinamida

Prazina
Pezeta Ciba 500
Pulmodex
500 mg / tablet

Ponco
Ciba
Dexamedica
4.
Rifampicin






Rifampicin + INH
Rifampin


Rifamtibi
Rimactane


Rimetazid




Ramicin-Iso
150 mg, 300 mg, 450 mg, 600 mg / kapsul

450 mg, 600 mg/kapsul
450 mg, 600 mg/ kapsul
20 mg / ml syr.

Per kapsul :
1.   Rifampicin 225 mg
     INH 200 mg
2.   Rifampicin 450 mg
     INH 300 mg
Per kapsul :
Rifampicin 500 mg
INH 150 mg
Pharos


Sanbe
Biochemie


Biochemie




Westmont

5.
Streptomisin

Streptomycine Sulphate Injection
1g, 1,5g, 5g/ vial
Meiji

2.3.  Antilepra
          Lepra atau kusta adalah suatu infeksi kronis yang terutama merusak jaringan-jaringan saraf. Pembangkitnya Mycobacterium leprae ditemukan oleh dokter Norwegia Hansen (1873), memiliki sifat-sifat yang mirip dengan basil TBC, yaitu sangat ulet karena mengandung banyak lemak dan lilin yang sukar ditembusi obat, juga pertumbuhannya lambat sekali setelah waktu inkubasi yang lama, lebih kurang satu tahun.
          Di Indonesia terdapat kurang lebih 100.000 pasien lepra yang diobati di sejumlah rumah sakit khusus (Leproseri) yang diawasi oleh Lembaga Kusta Departemen Kesehatan.
         
          2.3.1. Pencegahan
          Tes Lepromin adalah suatu injeksi intrakutan dari suspensi jaringan lepra dan digunakan untuk menetapkan apakah  seseorang memiliki daya tangkis cukup terhadap lepra bentuk – L. Hasil tes negatif berarti orang tersebut sangat peka untuk infeksi dengan bentuk tersebut.
          Pada tahun 1965 telah dibuktikan di Uganda, bahwa vaksinasi BCG memberikan perlindungan  yang lumayan terhadap infeksi dengan bentuk – L.

          2.3.2. Pengobatan
          Sejak dahulu kala obat satu-satunya terhadap lepra adalah minyak kaulmogra, yang efektif untuk meredakan gejala-gejalanya tanpa menyembuhkan penyakit.
          Pada tahun 1950 ditemukan dapson yang mampu menghentikan pertumbuhan basil lepra, yang kemudian lama-kelamaan akan dimusnahkan oleh sistem tangkis tubuh sendiri. Kemudian ditemukan leprostatika lain antara lain thiambutosin, klofazimin dan rifampisin.
          WHO menganjurkan sebagai terapi pilihan pertama suatu kombinasi dari dapson dengan rifampisin atau klofazimin selama sekurang-kurangnya 6 bulan. Kemudian disusul dengan monoterapi dapson selama 5 – 7 tahun pada bentuk tuberkuloid, dan seumur hidup pada bentuk – L dan borderline.

          2.3.3. Efek samping
          Yang terpenting adalah reaksi lepra yaitu suatu reaksi alergi yang diakibatkan oleh basil mati yang berjumlah besar di dalam jaringan-jaringan. Gejala-gejala berupa demam tinggi, radang dan nyeri sendi, rasa lelah dan habis tenaga, khusus pada bentuk – L terjadi benjol-benjol merah kebiruan. Semula diduga bahwa reaksi-reaksi ini merupakan efek samping khusus dari dapson, tetapi kemudian ternyata dapat juga ditimbulkan oleh leprostatika lainnya kecuali klofazimin.
             Untuk mengatasi gejala-gejala ini, obat lepra sering dikombinasi dengan asetosal atau sedativa, atau jika lebih hebat bisa diberikan zat supresif (penekan) seperti kortikosteroid. Obat lepra tidak boleh dihentikan atau dikurangi dosisnya berhubungan meningkatnya bahaya resistensi.
Spesialite :
NO.
NAMA GENERIK
NAMA DAGANG
SEDIAAN
PABRIK
1.


2.

3
Diamino Difenil Sulfon (DDS)

Clofazimine

Rifampicin
Dapson


Lamprene

Lihat obat TBC
100 mg / tablet


50 mg & 100 mg / tablet
Indofarma


Novartis








BAB III
PENUTUP

3.1. Simpulan
                       



DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, Sulistia Gan, dkk.2008. Farmakologi dan Terapi.Jakarta: Departemen Farmakologi FK UI.
http://www.scribd.com/doc/39255216/Obat2


Share this post :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Sweet Heart... - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger